MENGGUNAKAN/MEMANFAATKAN
(USING) TEKNOLOGI PENDIDIKAN DAN
PENERAPANNYA PADA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teknologi
Pendidikan
Dosen Pengampu :
ISMATUL MAULA, M.Pd

Disusun Oleh :
Juliana (1811170009)
Mawardah Tul Jannah (1811170011)
Siti Samsinar (1811170019)
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)
Jurusan Tarbiyah Dan Keguruan
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Bengkalis
Tahun Ajaran 2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur senantiasa terpanjatkan
kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat
menyelesaikan tugas Masail Fiqhiyah yang berjudul ”Euthanasia dan Bunuh Diri”. Shalawat dan salam mudah-mudahan disampaikan
kepada Rasulullah Muhammad SAW sebagai Nabi penutup dan Rasul pemungkas serta
pemimpin umat sampai akhir zaman.
Materi yang dimuat dalam menyelesaikan
tugas ini diupayakan mengacu kepada silabus yang telah ditetapkan. Demikian
pula sumber pengambilannya penulis merujuk kepada buku-buku yang telah
digariskan. Dalam penyelesaian tugas Masail Fiqhiyah ini, penulis haturkan terimakasih
kepada Bapak Muhammad Al-Mansur.S.Sy.,M.I.S selaku dosen
pembimbing mata kuliah Masail Fiqhiyah. Semoga meteri ini dapat diterima oleh mahasiswa-mahasiswi,
dan khususnya dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin.
Bengkalis, 05 Maret 2019
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN...................................................................................................... 1
A. Latar
Belakang............................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah......................................................................................................... 1
C. Tujuan .......................................................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN........................................................................................................ 3
A.
Pengertian
Teknologi .......................................................................................................... 3
B. Perkembangan Teknologi Pendidikan................................................................................. 4
C. Penerapan Teknologi Pendidikan
pada Pendidikan Agama Islam........................................ 6
D. Hal Berkaitan Dengan Teknologi
Pendidikan...................................................................... 9
E. Teknologi
Dalam Pendidikan.............................................................................................. 11
F. Cara-Cara
Menggunakan Atau Memanfaatkan Alat-Alat Teknologi
Pendidikan
Dan Jaringan Informasi.................................................................................... 12
G. Pengembangan
jaringan informasi....................................................................................... 16
BAB III PENUTUP................................................................................................................ 21
A.
Kesimpulan................................................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................. 22
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Teknologi
berperan penting dalam pendidikan,Teknologi dan media yang dirancang secara
khusus bisa memberi kontribusi bagi pengajaran yang efektif dan bisa membantu
siswa meraih potensi tertinggi mereka.
Karena
pada dasarnya semua teknologi pendidikan adalah baik, meskipun perkembangan
teknologi sekarang sudah berkembang, dan tidak bisa terbendung lagi. Namun yang
menjadi pertimbagan baik buruknya sebuah teknologi adalah tergantung
pengunaannya.
Oleh
karena itu para pendidik harus bisa mengarahkan, membimbing serta
mendidik mereka agar mereka tidak terpengaruh dengan adanya perkembangan
teknologi tersebut. Dari lembaga pendidikan inilah anak didik supaya diarahkan
tentang bagaimana peran dan pemanfaatan teknologi dalam kehidupannya.
Teknologi pendidikan adalah studi dan etika praktek
untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan,
menggunakan, dan mengelola proses teknologi yang tepat dan sumber daya. Sumber daya jangka dipahami untuk memasukkan alat-alat,
bahan, perangkat, pengaturan, dan orang-orang bahwa peserta didik berinteraksi
dengan untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja.
Pendidikan
merupakan faktor yang sangat penting dalam kelangsungan hidup manusia. Proses
pendidikan tidak lepas dari belajar sebab tanpa belajar manusia tidak mungkin
dapat mengembangkan minat, bakat dan cita-cita yang sesuai dengan kemampuan
yang dimilikinya.
B. Rumusan Masalah
A. Pengertian
Teknologi
B. Perkembangan
Teknologi Pendidikan
C. Penerapan
Teknologi Pendidikan pada Pendidikan Agama Islam
D. Hal
Berkaitan Dengan Teknologi Pendidikan
E. Teknologi Dalam Pendidikan
F. Cara-Cara Menggunakan Atau Memanfaatkan Alat-Alat
Teknologi Pendidikan Dan Jaringan Informasi
G.
Pengembangan
jaringan informasi
C. Tujuan
A. Untuk
mengetahui Pengertian Teknologi
B. Untuk
mengetahui Perkembangan Teknologi Pendidikan
C. Untuk
mengetahui Penerapan Teknologi Pendidikan pada Pendidikan Agama Islam
D. Untuk
mengetahui Hal Berkaitan Dengan Teknologi Pendidikan
E. Untuk
mengetahui Teknologi Dalam
Pendidikan
F. Untuk
mengetahui Cara-Cara
Menggunakan Atau Memanfaatkan Alat-Alat Teknologi Pendidikan Dan Jaringan
Informasi
G.
Untuk mengetahui Pengembangan jaringan informasi
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Teknologi
Pengertian
teknologi pendidikan tidak terlepas dari pengertian teknologi secara umum.
Banyak orang berpikir bahwa teknologi adalah hanya mesin atau alat-alat, akan
tetapi teknologi memiliki makna sebagai proses yang meningkatkan nilai tambah.
Pengertian teknologi sendiri sangat luas dan beragam. Menurut Salisbury (1996)
teknologi adalah “systematic application
of scientific or other organized knowledge to practical task.” (Aplikasi sistematik sains atau pengetahuan
lain dalam tugas praktikal ). Dengan kata lain dapat dijelaskan bahwa bila kita
mengembangkan suatu produk, kedisiplinan, prosedur-prosedur, alat-alat dan
teknik-teknik yang disatukan untuk membuat suatu inovasi disebut teknologi.
Bila definisi ini diterapkan dalam dunia pendidikan maka teknologi pendidikan
merupakan aplikasi sistematik sains dan pengetahuan lain dalam tugas
kependidikan.[1]
Dalam
artian teknologi sebagai proses, maka pendidikan dapat dikatakan sebagai salah
satu teknologi, karena pendidikan itu merupakan proses untuk menjadikan manusia
terdidik, atau proses untuk memperoleh nilai tambah (added value), sehingga
dapat dikatakan education as technology.
Menurut Habibie (1991) “teknologi agar dapat menghasilkan nilai tambah harus
memenuhi tiga kriteria, yaitu (1) mempunyai landasan teori untuk pengembangannya,
(2) mengandung cara khusus), (3) dapat digunakan untuk mengatasi problem
konkret.” Semua bentuk teknologi adalah system yang diciptakan manusia untuk
sesuatu tujuan tertentu, yang pada dasarnya adalah mempermudah manusia dan
memperingan usahanya, meningkatkan hasil dan menghemat tenaga serta sumber daya
yang ada. Teknologi itu pada hakikatnya adalah bebas nilai, namun penggunaannya
akan sarat dengan aturan nilai dan estetika.
Sedangkan
Rogers (1983, 120 mempunyai pandangan bahwa “teknologi merupakan suatu
rancangan langkah instrumental untuk memperkecil keraguan mengenai hubungan
sebab akibat dalam mencapai hasil yang diharapkan, dan dikatakan juga bahwa
teknologi umumnya mempunyai dua komponen yaitu: aspek perangkat keras yang
berupa peralatan dan aspek perangkat lunak yang berupa informasi.”
“Teknologi
berarti penerapan sistematis dari ilmu atau pengetahuan lain yang terorganisir
ke tugas-tugas praktis.” (Galbraith, 1967, h. 24).
Lumsdaine
(1964) dalam Romiszoswki (1981: 12) menyebutkan bahwa “Penggunaan istilah
teknologi pada pendidikan memiliki keterkaitan dengan konsep produk dan proses.
Konsep produk, berkaitan dengan perangkat keras atau hasil-hasil produksi.
Yaitu dengan digunakannya berbagai peralatan dalam proses pengajaran.” Pada tahapan
teknologi yang sederhana digunakan papan tulis, bagan, objek nyata, dan
model-model yang sederhana. Pada tahapan teknologi menengah digunakan OHP,
slide, film proyeksi, peralatan elektronik yang sederhana untuk pengajaran, dan
peralatan proyeksi (LCD). Sedangkan tahapan teknologi yang tinggi berkaitan
dengan penggunaan paket-paket yang kompleks seperti belajar jarak jauh dengan
menggunakan radio, televisi, modul, computer
assited instruction, serta pengajaran atau stimulus yang kompleks, dan
system informasi dial-access melalui
telepon, dan lain sebagainya. Penggunaan perangkat keras ini sejalan dengan
perkembangan produk industri dan perkembangan masyarakat, seperti e-learning yang memanfaatkan jaringan
internet untuk kegiatan pembelajaran. Konsep proses atau perangkat lunak,
dipusatkan pada pengembangan pengalaman belajar yang merupakan penerapan
pendekatan ilmu dalam pembuatan program pembelajaran. Pengembangan pengalaman
belajar ini diusahakan melalui pengembangan program pembelajaran yang sistemik
dan sistematis dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar. Dalam kaitannya
dengan hal tersebut, konsep proses dan konsep produk pada hakikatnya tidak
dapat dipisahkan, dalam makna bahwa keduanya bersama-sama ditujukan untuk
memberikan pengalaman belajar yang optimal kepada peserta didik.
Penggunaan
istilah teknologi dalam pendidikan tidak terlepas dalam kajian James Finn
(1960) pada seminar tentang peran teknologi dalam masyarakat, dengan judul
makalahnya “Technology and the
Instructional Process.” Melalui makalahnya dikaji hubungan antara teknologi
dan pendidikan. Argument utama yang disampaikannya didasarkan atas gejala
pemanfaatan teknologi dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kemiripan dengan
kondisi yang terdapat dalam pendidikan. Oleh karena itu, penggunaan istilah
teknologi yang digandengkan dengan pendidikan merupakan suatu hal yang tepat
dan wajar.
Pengertian
teknologi (termasuk teknologi pendidikan) secara umum adalah: proses yang
meningkatkan nilai tambah, produk yang digunakan dan atau dihasilkan untuk
memudahkan dan meningkatkan kinerja, struktur atau system di mana proses dan
produk itu dikembangkan dan digunakan.
B. Perkembangan Teknologi Pendidikan
Teknologi
pendidikan merupakan suatu disiplin terapan, artinya ia berkembang karena
adanya kebutuhan di lapangan, yaitu kebutuhan untuk belajar, belajar lebih
efektif dan efisien, lebih luas dan lebih cepat, dan seterusnya. Untuk itu ada
produk yang dibuat dan ada yang ditemukan dan dimanfaatkan. Perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi yang sangat cepat pada decade ini dan
menawarkan sejumlah kemungkinan yang semula tidak terbayangkan dan telah membalik
cara berpikir kita dengan bagaimana mengambil manfaat teknologi tersebut dalam
mengatasi masalah dalam pembelajaran.
Pada
awal perkembangan sekitar ratusan tahun yang lalu, teknologi itu dikenal
sebagai cara mengajar dengan menggunakan alat peraga hasil buatan sendiri oleh
guru di sekolah. Teknologi pendidikan digambarkan sebagai alat-alat audiovisual
seperti radio dan kaset. Perkembangan audiovisual pada awal tahun 1990-an
merupakan media bergerak yang pertama.
Sejarawan
teknologi pendidikan, Paul Saetler (1990) mengakui kesulitan untuk
mengidentifikasi kapan dan siapa yang menggunakan istilah Teknologi Pendidikan
pertama kali. Dia membuktikan bahwa penggunaan educational engineering pada tahun 1920-an, dan educational technology dan instructional technology pada akhir
tahun 1940-an.
Hubungan
yang erat antara teknologi industri dan teknologi pendidikan sudah ada sejak
awal abad ke-20 (Finn, 1957, Heinich, 1984). Pada 1920 dan 1930, teknologi
pendidikan audio dan visual berkembang secara baik. Alat bantu visual umumnya
diklasifikasikan dari tingkat kekonkretannya sampai dengan tingkat yang makin
abstrak. (Hoban, Hoban dan Zisman, 1937). Alat bantu visual adalah gambar,
model, objek atau alat-alat yang dipakai untuk menyajikan pengalaman konkret melalui
visualisasi. Dengan adanya perkembangan teknologi, pemanfaatan rekaman suara
dan film berusara dalam audio dan visual, sehingga dapat menyajikan pengalaman
konkret dan kaya kepada siswa.[2]
Januszewski
(2001: 2-15) mengungkapkan bahwa terdapat tiga faktor yang banyak melandasi dan
mepertajam teknologi pendidikan sebagai suatu kajian, yaitu engineering (Bern, 1961; Szabo, 1968), science (Finn, 1953; Ely, 1970;
Jorgenson, 1981; Saettler, 1990; Shork, 1990), dan the development of the audiovisual education movement (Ely, 1963;
Ely, 1970; Jorgerson, 1981; Saettler, 1990; Shrock, 1990). Dari hasil kajiannya
menunjukkan bahwa teknologi pendidikan memiliki keterkaitan dan saling
kebergantungan dengan ketiga faktor tersebut (engineering, science, dan audiovisual education).
Pada
1960-an, teknologi pendidikan menjadi salah satu kajian yang banyak mendapat
perhatian di lingkungan ahli pendidikan. Pada awalnya, teknologi pendidikan
merupakan kelanjutan perkembangan dari kajian-kajian tentang penggunaan
audiovisual, dan program belajar dalam penyelenggraan pendidikan. Kajian
tersebut pada hakikatnya merupakan usaha dalam memecahkan masalah belajar
manusia (human learning. Solusi yang
diambil melalui kajian teknologi pendidikan bahwa pemecahan masalah belajar
perlu menggunakan pendekatan-pendekatan yang fungsional dengan banyak
memfungsikan pemanfaatan sumber belajar (learning
resources) untuk kepentingan pemecahan masalah belajar yang dihadapi setiap
peserta didik.
Sejarah
secara signifikan menunjukan pada 1980-an perkembangan teknologi pendidikan
selaras dengan perkembangan mikrokomputer dan pengadopsian yang sangat cepat
dalam perkembangan sistem pembelajaran.
Aplikasi pembelajaran mikrokomputer telah mendominasi literature rancangan
pembelajaran. Kemungkinan terbukanya mikrokomputer dalam pemanfaatan
pembelajaran dalam psikologi kognitif dan strategi rekayasa pengetahuan. Tahun
1980-an telah menjadi saksi mata tumbuhnya pemanfaatan perkembangan
pembelajaran oleh dunia bisnis dan kelompok nonsekolah lainnya.
Teknologi
informasi dan komunikasi mendominasi teknologi pendidikan antara tahun
1980-1990-an hingga saat ini. Ditandai dengan banyaknya sumber belajar dan
bahan-bahan ajar yang berasal dari computer dan internet. Aplikasi teknologi
komunikasi dan informasi telah memungkinkan terciptanya lingkungan belajar
global yang berhubungan dengan jaringan yang menempatkan siswa di tengah-tengah
proses pembelajaran, dikelilingi berbagai sumber belajar dan layanan
elektronik. Penggunaan teknologi berbasis computer seperti videodiscs, CD-ROMs,
Multimedia, digital presentation, interaktif video, teleconferencing,
compressed video dan internet secara langsung menambah dan meningkatkan proses
belajar mengajar. Internet telah menjadi sumber belajar atau perpustakaan yang
terbesar yang di dalamnya terdapat jutaan bahkan miliaran informasi. Dengan
internet kita dapat berkomunikasi dan belajar secara langsung waktu dalam jarak
yang jauh dan tempat yang beerbeda (digital
online).
Belajar
pada manusia merupakan objek formal dari teknologi pendidikan, baik sebagai
pribadi maupun yang tergabung dalam organisasi. Belajar itu tidak hanya
berlangsung dalam lingkup persekolahan ataupun pelatihan. Belajar dapat
dilakukan di mana saja dan oleh siapa saja dengan cara dan apa yang sesuai
dengan kondisi dan keperluan. Akan tetapi dalam pelaksanaannya masih
menitikberatkan pada pemecahan masalah dalam bidang persekolahan. Sedangkan
bidang garapan teknologi pendidikan itu luas sekali.
Penerapan
teknologi pendidikan tidak hanya pada pendidikan yang pada umumnya berlaku di
sekolah, atau pelatihan yang dilaksanakan oleh lemabag-lembaga, Institusi atau
departememn saja, tetapi penerapan teknologi pendidikan juga berkembang luas di
luar lembaga pendidikan. Kegiatan belajar tidak hanya dilakukan oleh perseorangan,
melainkan juga oleh kelompok dan organisasi.
C. Penerapan Teknologi Pendidikan pada
Pendidikan Agama Islam
Teknologi
pendidikan telah berkembang sebagai suatu disiplin keilmuan yang berdiri
sendiri. Perkembangan tersebut dilandasi oleh serangkaian dalil atau dasar yang
dijadikan patokan pembenaran. Secara filosofi, dasar keilmuan itu meliputi:
Ontologi yaitu rumusan tentang gejala pengamatan yang dibatasi pada suatu pokok
telaah khusus yang tidak tergarap oleh bidang telaah lain. Contohnya siswa atau
peserta didik bergaul dengan dunia lingkungan dan mempunyai dorongan yang kuat
untuk mengerti sesuatu oleh karena itu teknologi pendidikan dalam hal ini
sebagai tahapan pengembangan untuk memudahkan hubungan siswa atau peserta didik
dengan dunia lingkungannya peserta didik baik dimasyarakat atau disekolah
selalu menghadapi realita atau objek pengalaman.
Epistemology,
yaitu usaha atau prinsip intelektual untuk memperoleh kebenaran dalam pokok
telaah yang ditentukan, contohnya ia membahas mengenai tentang pendidikan yang
mengahadapi banyak persoalan-persoalan pendidikan seperti kurikulum, teori
belajar, strategi belajar, bahan atau sarana dan prasarana yang menghantarkan
terjadinya proses pendidikan, dan cara menentukan hasil pendidikan.
Aksiologi
yaitu nilai-nilai yang menentukan kegunaan dari pokok telaah yang ditentukan,
yang mempersoalkan nilai moral atau etikan dan nilai seni serta
keindahan/estetika. Contohnya peningkatan mutu pendidikan seperti menarik,
efektif, efisien dan relevan dan penyempurnaan system pendidikan, dan juga
meluas dan meratanya kesempatan akses pendidikan, penyesuaian dengan kondisi
pembelajaran atau penyelarasan dengan perkembangan lingkungan dan peningkatan
partisipasi masyarakat.[3]
Teknologi
pendidikan perlu dipikirkan dan dibahas terus-menerus karena adanya kebutuhan
nyata yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya, yaitu: (a) tekad
megadakan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar, (b) keharusan
meningkatkan mutu pendidikan berupa penyempurnaan kurikulum, menyediakan berbagai
sarana pembelajaran, (c) penyempurnaan system pendidikan dengan penelitian dan
pengembangan.
Teknologi
pendidikan merupakan proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang,
prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari
jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah
yang menyangkut semua aspek belajar manusia. Fungsi-fungsi teknologi pendidikan
meliputi: Sumber Belajar, Pengelolaan Pendidikan, dan Pengembangan Pendidikan.
Fungsi-fungsi
teknologi pendidikan meliputi: Sumber belajar , Pengelolaan Pendidikan dan
Pengembangan Pendidikan. Pengelolaan pendidikan meliputi pengelolaan organisasi
dan pengelolaan orang. Pengembangan pendidikan terdiri atas pengembangan teori
penelitian, perancangan, produksi, penilaian dan pemanfaatan. Sumber belajar
ada yang dirancang khusus untuk pembelajran (by design) dan ada yang dirancang
untuk dapat dimanfaatkan sebagai keperluan pembelajaran (by utilization) dan
sumber belajar dapat berasal dari bahan, alat atau perlengkapan, manusia dan
tempat atau lingkungan. Semua fungsi atau kawan teknologi bertujuan agar proses
pembelajaran bagi peserta didik dapat berjalan dengan baik.
Dari
fungsi-fungsi ini, teknologi pendidikan dapat diartikan sebagai; “Teknologi
pendidikan adalah teori yang berkenaan dengan cara bagaimana masalah-masalah
belajar manusia diidentifikasi dan dipecahkan.”
Teknologi
pendidikan adalah suatu bidang yang mencakup penerapan proses yang kompleks dan
terpadu dalam menganalisis dan memecahkan masalah-masalah belajar manusia.
Teknologi
pendidikan merupakan profesi dalam bentuk usaha yang terorganisir untuk
menetapkan teori, teknik intelektual, dan penerapan praktis teknologi
pendidikan.
Perkembangan
terakhir, teknologi pendidikan secara konseptual didefinisikan sebagai: teori
dan praktik dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian dan
penelitian proses, sumber dan sistem untuk belajar (Barbara Seels, 1994).
Definisi tersebut mengandung pengertian ada empat komponen dalam teknologi
pembelajaran, yaitu: (a) teori dan praktik; (b) desain, pengembangan,
pemanfaatan, pengelolaan, penilaian dan penelitian; (c) proses, sumber dan
sistem; (d) untuk belajar.
1. Suatu
profesi harus memiliki landasan pengetahuan yang menunjang praktik. Teori
terdiri dari konsep, bangun (konstruk), prinsip dan proposisi yang memberi
sumabngan Teori dan Praktik terhadap ilmu pengetahuan. Sedangkan praktik
merupakan penerapan pengetahuan tersebut dalam memecahkan masalah. Teori dan
praktik banyak menggunakan model. Dan teori juga menghasilkan model untuk
menvisualisasikan hubungan model yang disebut model konseptual.
2. Desain,
Pengembangan, Pemanfaatan, Pengelolaan, Penilaian dan Penelitian. Peristilahan
in berhubungan dengan daerah basis pengetahuan maupun tugas yang dilakukan para
pelaku dalam bidangnya masing-masing. Masing-masing peristilahan memiliki
lingkup dan ciri khas untuk berkembang menjadi bidang kajian tersendiri.
3. Proses,
Sumber dan Sistem. Proses adalah serangkaian operasi atau kegiatan yang
diarahkan pada suatu hasil tertentu. Sumber ialah hal yang mendukung
terjadingan belajar, termasuk sistem pelayanan,
bahan pembelajaran dan lingkungan.
4. Untuk
Belajar.Belajar adalah tujuan dan pembelajaran adalah sarana untuk mencapai
tujuan belajar menyangkut adanya peruban yang relatif permanen pada pengetahuan
atau perilaku seseorang karena pengalaman (Mayer, 1982).
Berikut penerapan
teknologi informasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam antara lain,
yaitu:
1.
Penggunaan program power point dalam proses pembelajaran PAI di kelas. Melalui
proram tersebut, guru tinggal menulis poin-poin penting materi yang akan
disampaikan.
2.
Menggunakan e-mail untuk mengumpulkan tugas dari peserta didik.
3.
Menggunakan mailing list untuk diskusi kelas yang diajarkan.
4.
Menggunakan web blog untuk pembelajaran di dalam atau luar kelas.
Telaah faktor yang mempengaruhi penerapan tekhnologi
informasi dalam Pembelajaran PAI yaitu :
a. Dukungan sarana dan
prasarana yang representatif.
b. Pembiayaan sebagai salah
satu instrument yang mendukung pengadaan dan pelaksanaan pembelajaran PAI melalui
tekhnologi informasi.
c. Dukungan dan kebijakan
baik dari pemerintah dan masyarakat, dalam pembelajaran PAI.
d. Pentingnya dimiliki sumber
daya, kemampuan dan keterampilan dalam penggunaan tekhnologi informasi terutama
dalam proses pembelajaran.
e. Aplikasi sistem
(Software), oleh karena itu penting pengadaan dan penggunaan aplikasi yang
mendukung model-model pembelajaran.
f. Motifasi dan
ketertarikan siswa dalam pembelajaran PAI yang menggunakan tehnologi.
g. Tekhnologi informasi dalam
pembelajaran pada sisi lain membawa pengaruh negative terhadap diri siswa.
h. Pentingnya penyediaan tenaga
tekhnis yang memiliki keahlian atau keterampilan dalam mengelolah dan
memelihara peralatan.[4]
D.
Hal
Berkaitan Dengan Teknologi Pendidikan
a.
Teknologi pendidikan adalah teori
tentang bagai mana masalah-masalah belajar didevinisikan dan dipecahkan.
b.
Teknologi pndidikan adalah suatu
lapangan yang komplek yang melibtkan berbagai aspek , proses integrasi ,
menganalisis dan memecahkan masalah-masalah belajar.
c.
Teknologi pendidikan adalah suatu
profesi dadari teknologi dalam kegiatan usaha mengorganisasi,
mengemplementasikan teori, teknik dan praktek aplikasinya.
d.
Teknologi pendidikan sering dikacaukan
dengan teknologi pendidikan. Teknologi dalam pendidikan adalah aplikasi
terhadap sesuatu yang melibatkan suatu badan penyelenggara pendidikan. Termasuk
kedalamnya aplikasi teknologi dalam makanan, kesehatan, pembiyayaan,
penceranaan, pelaporan lembaga. Teknolgi pendidikan tidak sama dengan teknologi
didalam pendidikan.
e.
Teknologi pendidkn sering dikacaukan
dengan teknologi pengajaran. Teknologi pengajaran adalah suatu sub-set
(perangkat) dari teknologi pendidikan, berdasarkan bahwa pengajaran adalah
sub-setdari pendidikan. Jadi, seluruh
teknologi pengajaran cocok dalam parameter teknologi pengajaran; sedangkan
teknologi pendididkan tidak cocok dalam parameter yeknologi pengajaran.
Teknologi pengajaran tekanannya dalam kegiatannya operasional, sedangkan
teknologi pendidikan lebih menekankan bahwa fungsi pengembangan dan manajemen.
Oleh karna itu, mereka lebih banyak menggunakan sumber-sumber belajar dari pada
komponen-komponen sistem pengajaran, mereka memasukkan seluruh sumber belajar
yang dapat dipergunakan fasilitas belajar.
f.
Definisi teknologi pendidikan merupakan
suatu teori, sebab ia mempertemukan kriteria dari eksistensi suatu fenomena,
menerangkan, menyimpulkan, orientasi, sistematik, identifikasi, strategi
generalisasi riset, predikasi, dan
suatu prinsip atau sekumpulan prinsip.
g.
Tenik pendidikan memiliki teknik
intelektual yang khas. Suatu pendekatan untuk memecahkan masalah-masalah.
Masing-masing fungsi pengembangan dan manajemen memiliki teknik tersendiri
digabungkan dengannya. Teknik intelektual dari teknologi pendidikan lebih daripada
jumlah bagian-bagian. Ini melibatkan integrasi
sistematika dari teknologi khusus dari fungsi-fungsi ini dan
hubungannya, kedalam suatu yang kompleks, proses integrasi untuk menganalisis
keseluruhan masalah dan menciptakan jalan keluar baru. Memptodeksi suatu efek
sinergistik,
Menghasilkan
keluaran yang tidak berdasarkan pada pelaksana elemen-elemen khusus secara
terpisah. Jadi teknologi pendidikan ini khas, tidak ada lapangan lain yang
menyamaianya. Teknologi pendidikan memiliki aplikasi praktistik. Eksistensi
sumber-sumber belajar dan performance dari fungsi-fungsi pengembangan dan
manajemen, serta merupakan petunjuk yang tegas dari aplikasi praktis. Aplikasi
teknologi pendidikan mempengaruhi struktur organisasi pendidikan sebagai
berikut :
a. Mengubah
dampak yang kuat dari teknologi pendidikan yang strategi kurikulu.
b. Memperkenalkan
4 tipe pola pendidikan manusia sendiri sebagai sumber, sumber lain yang
digunakan orang dan control, orang-orang dalam tanggung jawab bersama dengan
sumber lain, (digabungkann kedalam system pendidikan yang mengunakan media
pengajara), sumber lain (media pengajaran) sendiri.
c. Membuat
kemungkinan adanya bentuk-bentuk alternative lembaga untuk fasilitas belajar,
dan dapat melayani seluruh tipe alternative lembaga ini. Aplikasi-aplikasi ini
memiliki dampak yang bearti pada proses, spesifik pendidikan mengubah teknik
berbuat, dan orang-orang yang berbuat, ketentuan isi (termasuk standardisasi,
pemilihan, kuantitas dan kualitas) desain, produksi, evaluasi pengajaran,
interaksi siswa. Hasilnya menunjukkan perubahan drastic dalam tata aturan
sistem-sistem sekolah dan guru-guru secara individual.
Teknologi pendidikan
memiliki panduan untuk latihan dan mendapatkan sertifikat. Merupakan kerangka
dasar kompetensi untuk melatih orang-orang yang melaksanakan tugas dalam
teknologi pendidikan. Kerangka merupakan dasar pada kelompok-kelompok tugas
dari bermacam-macam fungsi dalam bidang teknologi pendidikan dan teknoloi
pengajaran. Kelompok mengambarkan spesialisasi dalam lapangan yang singkat,
yaitu :
a.
Pengembangan program
b.
Pengembangan produksi media
c.
Manajemen media
Teknologi pendidikan
memiliki persyaratan untuk para pengembang dan implementasi kepemimpinan dalam
profsi yang disiapkan melalui bermacam-macam kegiatan kaderisasi kepemimpinan
dan program-program masa belajar. Ditambah latihan-latihan fungsi kepemimpinan
dalam lapangan pendidikan melalui peran serta dalam kerja sama kelompok dana
bantuan dan publikasi.
E.
Teknologi Dalam Pendidikan
Teknologi dalam
pendidikan mencakup mencakup semua alat yang dapat digunakan untuk menyajikan,
dan khususnya yang berkenaan dengan
pendidikan dan penilaian, seperti televisi, laboratorium bahasa, dan berbagai
media yang diproyeksiakan serta komputer. Dapat dikatakan, bahwa semua yang
tercakup sebagai audio-visual aids
digolongkan sebagai teknologi dalam pendidikan (technology in education) (hamalik 2000; 18).
Bidang alat-alat audio –visual itu sendiri merupakan
perpaduan antara dua hal berbeda, tetapi saling berkaitan, yang disebut dengan
perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Perangkt keras
berkenaan dengan peralatan/perlengkapan, seperti: OHP, proyektor slide, tape
recorder, televisi, video cassette, mikro komputer. Perangkat lunak berkaitan
dengan berbagai macam yang digunakan dalam hubungannya dengan peralatan tadi,
seperti transparansi, audiotape, rekaman video, dan program komputer.
Teknologi daam
pendidikan merupakan suatu objek yang sangat penting dari teknologi pendidikan
berkenaan terutama dengan penggunaan unit-unit audio-visual aids dengan
mempergunakan perangkat keras sesuai dengan perangkat lunak, maka efisiensi dan
efektivitas, serta kualitas pembelajaran dapat diperbaiki atau ditingkatkan.
Hal ini yang mendasari perkembangan teknologi dalam pendidikan dewasa ini.
Perangkat keras mengandung konotasi penggunaan teknik engineering seperti optik dan elektronik dan selanjutnya
dikembangkan perangkat lunak berupa materi belajar. Yang serasi yang
berlandaskan pada psikologi dan teori-teori belajar, yang pada gilirannya
menimbulkan pemikiran mengenai perlunya desain belajar mengajar, dan pada
akhirnya muncul penafsiran baru yang disebut dengan teknologi pendidikan.
F.
Cara-Cara Menggunakan Atau Memanfaatkan Alat-Alat
Teknologi Pendidikan Dan Jaringan Informasi
Banyak tokoh teknologi pendidikan, seperti Thorndike,
Pressey, Pavlov, Skinner, Crowder dan sebagainya. Edward L. Thorndike terkenal
dengan teorinya law of effect, dimana belajar akan berhasil jika hasil belajar
itu memeberikan rasa senang kepada diri anak. Oleh Karena itu setiap jawaban
dari stimulus harus diikuti dengan reinforcements tertentu, sehingga anak
merasakan sukses berangkai. pressey memperkenalkan mesin mengajar (teaching
machine) sebagai perangkat keras yang harus diisi dengan perangkat lunak.
Pressey menggunakan tes objektif yang dapat dinilai sendiri oleh anak.
Kemajuan
yang dicapai manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi membuat ilmu
pengetahuan dan teknologi itu sendiri berkembang semakin pesat. Pola hidup
manusia dengan kemajuan ilmu dan teknologi mempunyai hubungan erat, pendidikan
mungkin wadah paling menonjol dalam rangka kemajuan itu, dalam rangka kegiatan
pendidikan, ada beberapa media yang dapat digunakan, mulai dari paling
sederhana sampai kepada yang canggih. Beberapa cara menggunakan dan
memanfaatkan alat-alat teknologi antara lain sebagai berikut:
a.
Papan
tulis
Papan tulis digunakan hamper si setiap ruangan kelas.papan tulis
biasanya terbuat dari papan biasa, tripleks atau slate. Papan tulis sangat baik
untuk membuat tulisan, gambar, grafik dan sebagainya. Di sekolah-sekolah
tradisional papan tulis biasanya dipakai secara penuh, akan tetapi
disekolah-sekolah modern, dimana media teknologi cukup bervariasi, papan tulis
biasanya digunakan secara terbatas.
Papan tulis mempunyai nilai tertentu, seperti penyajian bahan dapat
dilakukan secara jelas, kesalahan tulisan mudah diperbaiki, dapat merasang anak
untuk aktif, dapat menarik perhatian. Penggunaan papan tulis memerlukan
keterampilan menulis dan kerajinan membersihkannya.
b.
Bulletin
board dan display
Alat ini biasanya dibuat secara khusus dan digunakan
untuk mempertontonkan pekerjaan siswa, gambar-gambar, bagan, poster atau objek
berdimensi lainnya. Bulletin board dan display mempunyai nilai tertentu, seperti tempat mempertontonkan gambar-gambar
khusus yang menunjukkan benda, poster atau karya kelas lainnya, dapat digunakan
sebagai papan pengumuman kelas, pengumuman sekolah atau petugas- petugas
memperluas minat anak dan menimbulkan semangat dan bertanggung jawab bersama,
menambah pengalaman baru, membangkitkan kecakapan artistic, merangsang
inisiatif, kreativitas dan sebagainya.
c.
Gambar
dan ilustrasi fotografi
Gambar ini tidak diproyeksikan, dapat disekitar kita dan relative mudah
diperoleh untuk pertunjukkan kepada anak. Gambar ilustrasi fotografi yang
berwarna lebih menarik, arti dari sebuah gambar ditentukan oleh persepsi
masing-masing. Gambar dan ilustrasi fotografi
mempunyai nilai tertentu, yaitu bersifat konkret, tak terlalu terbatas pada
ruang dan waktu, membantu memperjelas masalah, membantu kelemahan indera, mudah
didapati, relatif murah, disamping mudah digunakan.
d.
Slide
dan filmstrip
Slide dan filmstrip merupakan gambar yang di proyeksikan, dapat dilihat
mudah dan dioperasikan. Disekolah-sekolah tradisional hamper tak pernah
digunakan karena slide dan filmstrip mensyaratkan sumber tenaga listrik dan
perangkat keras.
Slide dan filmstrip mempunyai nilai tertentu, yaitu memudahkan penyajian
seperangkat materi tertentu, membangkitkan minat anak, keseragaman informasi,
dapat dilakukan secara berulang-ulang, menjangkau semua bidang pelajaran.
Penggunaan slide dan filmstrio memerlukan keterampilan tertentu, termasuk
kemampuan memberi penjelasan, baik penjelasan pokok maupun pejjelasan tambahan.
e.
Film
Film pendidik dianggap efektif untuk digunakan sebagai alat bantu
pengajaran. Film yang diputar didepan siswa harus merupakan bagian integral
dari kegiatan pengajaran.
Film mempunyai nilai tertentu, seperti dapat melengkapi
pengalaman-pengalaman dasar, memancing inspirasi baru, menarik perhatian,
penyajian lebih baik karena mengandung nilai-nilai rekreasi, dapat
memperlihatkan perlakuan objek yang sebenarnya, sebagai pelengkap catatan,
menjelaskan hal-hal abstrak, mengatasi rintangan bahasa dll.
f.
Rekaman
pendidikan
Istilah asing dari alat ini adalah recording, yakni
alat audio yang tidak diikuti dengan visual. Melalui alat ini kita dapat
mendengarkan cerita, pidato, music, sajak, pengejian dll. Rekaman ini sering
dilakukan oleh kelompok individu siswa misalnya merekam ceramah guru.
Rekaman pendidikan memiliki nilai tertentu, seperti
dapat memberikan bermacam-macam bahan, pelajaran dapat lebih konkret, mendorong
aktifitas belajar, dapat dibawa kemana-mana, keaslian berang lebih terjamin,
penggunaan barang lebih efisien.
8. Radio pedidikan
Radio adalah alat elektronik yang muncul dari hasil teknologi
komunikasi. Melalui alat ini orang dapat mendengarkan siaran dari berbagai
penjuru dan peristiwa. Radio pendidikan biasanya tidak dipergunakan penuh
langsung untuk tujuan pendidikan. Di radio pendidikan, biasanya siaran khusus
untuk pendidikan diatur dengan jadwal.
Radio pendidikan mempunyai nilai tertentu, seperti memberikan berita
yang up to date, menarik minat, jangkuan luas, berdasrkan kenyataan, mendorong
kreatif, mempunyai nilai rekreatif.
9. Televise pendidikan
Televise adalah alat elektronik yang berfungsi menyerbarkan gambar dan
diikuti oleh suara tertentu. Pada dasarnya sama dengan gambar hidup bersuara.
Televise pendidikan dianggap barang mewah, karenanya sulit dijangkau.
Penggunaan televise, menurut yusufhadi miarso (1980) dapat dilakukan dengan
beberapa alternative.
a.
Televise
siaran, yaitu pemancaran melalui saluran televisi umum dengan berkas pancaran
meluas atau tidak tertuju ke arah tertentu. Pemancaran ini merupakan rangakaian
terbuka (open circuit) dan umumnya dapat diterima oleh pesawat penerima biasa.
b.
Televise
rangkaian tertutup (closed circuit television) yang pancarannya tidak dapat
melalui kabel koasial atau gelombang mikro (untuk ini diperlukan peralatan
penerimaan khusus).
c.
Televisi
pengajaran dengan pelayanan tertentu (instructional television fixed service),
yaitu system pemancaran dan penerimaan televisi pada frekuensi istimewa yang
khusus dialokasikan.
d.
Televise
slow scan yaitu system pemancaran gambar mati secara bertahap dengan melalui
saluran telepon atau radio biasa. System ini mirip dengan faksimile, hanya
dalam slowscan gambar dibentuk dalam waktu yang singkat dan gambaran disajikan
dalam CRT (cathode ray tube) sedangkan faksimile memproduksi kopi cetak (copy
printout) dalam waktu yang lebih lama.
e.
Televise
time shared, suatu rangkaian sistem yang satu saluran televisi memancarkan,
misalnya 300 gambar mati kepada 300 penonton yang berlainan, masing-masing
untuk 30 detik, biasanya kita mengamati 300 frame yang berurutan dari satu
gambar yang hidup.
f.
Teleblackboard
yaitu suatu teknik yang dikembangkan oleh ITB dengan bekerjasama T.H. Delf yang
mampu memancarkan secara serentak suara dengan tulisan dan garis yang
dibuat di sebidang papan khusus.
Televise
pendidikan mempunyai nilai tertentu, yaitu bersifat langsung dan nyata,
jangkauan luas, memungkinkan penyajian aneka ragam peristiwa dan menarik minat.
10. Peta dan globe
Peta adalah penyajian visual dari muka bumi, globe
adalah bola bumi atau model. Peta dan globe berbeda secara gradual, akan tetapi
saling melengkapi.
11.
Buku pelajaran
Buku pelajaran merupakan alat pelajaran yang paling
populer dan banyak digunakan ditengah-tengah penggunaan alat pelajaran lainnya,
lebih-lebih akhir-akhir ini, dimana alat cetak telah memasuki abad super
modern.
Buku pelajaran mempunyai nilai tertentu, seperti
membantu guru dalam merealisasikan kurikulum, memudahkan kontinuitas pelajaran,
dapat dijadikan pegangan, memancing aspirasi, dapat menyajikan materi yang
seragam, mudah diulang dan sebagainya.
12.
Overhead
projector
Proyektor lintas kepala (overhead projector)
memproyeksikan pada layar apa yang tergambar atau tertulis pada kertas
transparan. Penggunaan transparan tidak jauh berbeda dengan penggunaan papan
tulis. Alat ini dapat digunakan dengan tidak harus menggelapkan ruangan.
13.
Tape
recorder
Alat ini sudah memasyarakatkan. Alat ini sangat serasi
untuk digunakan dalam pelajaran bahasa. Keuntungan penggunaan alat ini antara
lain murid dapat mendengarkan kembali apa yang dibacanya, dapat digunakan dalam
interview, memudahkan pemahamanterhadap pengguasaan anak terutama dalam
pelajaran bahasa.
14.
Alat
teknologi pendidikan lainnya adalah mesin belajar dan belajar berprograma,
laboratorium bahasa, computer, model, pameran, museum sekolah, dramatisasi, dan
demonstrasi, manusia sumber, surveimasyarakat, pelayanan terhadap masyarakat,
kemah, kerja lapangan dan lain sebagainya juga merupakan media pendidikan yang
mengandung nilai-nilai pendidikan.
Beberapa rumusan spesifik yang dapat ditarik
berdasarkan uraian diatas, yaitu :
1.
Teknologi
pendidikan merupakan media yang lahir dari revolusi teknologi komunikasi yang
dapat digunakan untuk tujuan-tujuan pendidikan. Teknologi pendidikan
mensyaratkan ide, peralatan, organisasi dan manajemen yang dikaji secara
sistematis, rasional dan ilmiah.
2.
Pemanfaatan
teknologi komunikasi untuk kegiatan pendidikan dan teknologi pendidikan itu
sendiri mutlak perlu dalam rangka kegiatan belajar mengajar. Karena dengan
pendekatan ilmiah, sistematis dan rasional seperti dituntut teknologi
pendidikan tujuan pendidikan yang efektif dan efisien akan tercapai.
3.
Pemanfaatan
media pendidikan mempunyai implikasi tertentu dalam proses belajar mengajar,
sesuai dengan ciri dan kegunaan masing-masing media itu. Teknologi pendidikan
itu sendiri menyangkut perangkat keras dan perangkat lunak, yang dalam
praktiknya biasanya saling mengisi.
4.
Teknologi
pendidikan mempunyai arti tertentu dalam kegiatan belajar mengajar, seperti
pendidikan lebih produktif, memungkinkan pengajaran lebih individual, ilmiah,
seketika dan luas.
5.
Teknologi
pendidikan tidak selamanya mengandung ati pemanfaatan perangkat keras yang
rumit dan kompleks. Bentuk pengajaran seperti ceramah, diskusi, seminar,
karyawisata dan sebagainya dapat memenuhi syarat-syarat teknologi pendidikan.
Dalam teknologi pendidikan yang paling penting adalah bahwa kegiatan pengajaran
didekati secara sistematis, rasional dan ilmiah.
6.
Pemanfaatan
media teknologi pendidikan yang beraneka ragam itu menuntut keterampilan
tersendiri dari para pelaksana pendidikan.[5]
G. Pengembangan
jaringan informasi
Peningkatan
kualitas sumber daya manusia merupakan tuntutan yang harus dipenuhi oleh
institusi pendidikan atau pusat-pusat latihan, terutama memasuki abad ke-21
ini. Orang makin sadar, bahwa akumulasi modal, kemampuan teknologi, situasi dan
sumber daya alam hanya menyumbang sekitar 20% bagi produktivitas dan
pertumbuhan ekonomi pada umumnya. Selebihnya, sekitar 80% ditentukan oleh
kualiotas sumber daya manusia, berupa keterampilan dan kemampuan profesional
dalam bidang manajemen. Makin mampu bangsa kita menata kualitas sumber daya
manusia, makin mudah pula usaha mewujudkan masyarakat bahagia atau masyarakat
yang mempunyai mobilitas tinggi yang terhindar dari kemiskinan dan frustasi.
Kalangan bisnis
industrial pada abad ke-21 harus makin sadar, bahwa keunggulam komparatif
bukanlah terletak pada upah buruh rendah, bahan baku murah, memanipulasi
timbangan, dan penurunan kualitas produk untuk mengejar kuantitas/ keunggulan
komparatif justru terletak pada kualitas sumber daya manusianya. Mengikuti
konsep pendekatan korelasi (correlation approach), bahwa makin tinggi rata-rata
tingkat pendidikan penduduk suatu Negara. Tugas penyelenggara pendidikan yang
sekaligus menjadi tugas kita semua adalah mengupayakan universalisasi
pendidikan setinggi mungkin, minimal pada tingkat SLTP atau pendidikan dasar9
tahun. Jika rata-rata penduduk kelas bawah telah punya kemampuan skolastik
(menulis, membaca dan berhitung), maka upaya mewujudkan masyarakat bahagia akan
makin mudah.
Pengembangan
jaringan informasi adalah upaya mendasar yang perlu disegerakan. Masyarakat
kalangan bawah, seperti kelompok-kelompok rumah tangga miskin, rentan, tak
berdaya, dan labil adalah kelompok sasaran yang harus diutamakan. Kelompok
masyarakat semacam ini bersikap statis, tanpa persaingan yang memadai dan
pasrah menghadapi lingkungan (chambers, 1988). Sejalan dengan itu, ada kelompok
dinamis yang selalu merasakan waktu yang 1x24 jam sehari semalam terlalu
singkat, uang tabungan selalu terlalu kecil, mobil mewah kurang mewah, parabola
belum cukup dan berlibur sekali setahun ke objek rekreasi terindah di dunia
terlalu jarang. Jurang perbedaan antara kelompok beruntung dan kelompok
teraniaya laksana bumi dengan langit. Pengembangan jaringan informasi yang
mudah, murah dan bermanfaat merupakan salah satu alternative pilihan yang dapat
diambil segera.
1.
Alat teknologi untuk pendidikan
Disadari atau tidak oleh seluruh masyarakat Indonesia,
yang nyata adalah : tidak semua warga punya nasib baik. Kalau dikota-kota,
orang sudah meraskan nikmat dan dampak globalisasi, didesa-desa orang tetap
beralat dengan alam untuk mencari sesuap nasi. Orang kota sudah mengenal
antenna parabola, televisi kabel, fax, telepon digital, computer netway, tele =
education, tele-library, tele-laboratory, tele-conference dan sebagainya. Orang
desa, sebaliknya, berpindah dari lahan garapan satu ke lahan garapan yang lain,
ke tanaman produksi/sayuran sejenis ke jenis lain, pola menu makanan yang
menoton, bertambah banyak anak, rentan penyakit, dan buta informasi serta
pendidikan anak tertinggal.
Salah satu penyebab
ketertinggalan itu adalah ketidakadaan alat teknologi seperti televise, yang
bukan saja tidak terbeli tetapi belum terjangkau oleh siaran. Pada skala
nasional, diperkirakan TVRI dan TPI baru daapat dinikmati oleh 60% penduduk.
Satu-satunya alat teknologi yang dimiliki oleh hampir seluruh penduduk desa
terpencil, berdasarkan hasil studi kasus adalah radio (Sudarwan dan
Hadiwinarto, 1992). Meskipun demikian, ternyata acara yang paling mereka
senangi adalah siaran berita dan hiburan (musik dangdut, pop, dan sandiwara).
Masyarakat desa, terutama di desa-desa pedalaman sumatera, Kalimantan, Sulawesi
dan irian dan di banyak pulau kecil belum dapat menikmati siaran TVRI dan TPI,
karena tidak tersedia relay yang cukup, tidak sanggup membeli atau alas an
lain.
Penggunaan teknologi
komunikasi televise, seperti TVRI dan TPI makin dirasakan manfaatnya, terutama
sejalan dengan program pemerataan kuantitatif bidang pendidikan. Dibukanya TPI,
program siaran untuk mahasiswa universitas terbuka, pengajaran bahasa, siaran
pedesaan, film seri dan film lepas dan informasi pembangunan lain sangat
membantu percepatan arus informasi kepada masyarakat. Khusus untuk program
pengajaran di TPI, meskipin secara konseptual diakui manfaatnya besar, namun
dari segi teknis masih perlu pembenahan, seperti jam siaran yang notabene
sebagian besar konsumennya sedang berada dikelas, lebih-lebih ada perbedaan
waktu antara Indonesia bagian barat, tengah dan timur. Efesiensi dan percepatan
arus informasi yang diperlukan oleh anak didik.
Sementara itu memang masih
dirasakan bahwa tersedianya alat-alat teknologi canggih, terutama teknologi
informasi dan komunikasi baru intensif dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan
pertahanan dan keamanan, penginderaan jarak jauh, bisnis, industri,
penerbangan, perbankan, hiburan, promosi dan lain-lain. Pemanfaatannya untuk
kepentingan pendidikan (dalam arti pendistribusian subject matter) belum
sepenuhnya memadai. Alat-alat canggih bidang teknologi informasi komunikasi
dimasa dating, terutama pada skala terbatas, akan memungkinkan hadirnya sajian
bahan pendidikan, perpustakaan laboratorium jarakn jauh.
2. Media catak dan sarana fisik
Media cetak yang murah dan banyak jumlahnya serta
terbesar pada seluruh wilayah menjadi dambaan seluruh umat. Fungsinya tidak
kalah dengan radio (program audio) dan televise (program audio visual),. Bahkan
untuk kalangan tertentu, bahan bacaan (buku, jurnal, majalah, Koran, manual
instruction, brosur dan lain-lain) lebih menguntungkan, karena dapat dibaca
ulang dan dijadikan bahan acuan ilmiah. Bahan-bahan itu tersebar ditoko-toko
buku, dirumah-rumah pribadi, di kaki lima dan bahkan di tangan pedagang
asongan.
Di Indonesia, secara
kuantitatif, perpustakaan yang ada cukup memadai. Tahun 1986, ada 295 buah
perpustakaan khusus, perpustakaan universitas (negeri dan swasta) sebanyak 252
buah, perpustakaan keliling 111 buah, perpustakaan sekolah 1.139 buah,
perpustakaan desa 524 buah, dan perpustakaan wilayah (di tingkat propinsi dan
kabupaten) ada 300 buah (Daud, 1992). Jumlah pertambahan halaman buku dan media
cetak lain diperpustakaan kita, dalam satuan tahun, memang belum dicatat secara
pasti. Namun demikian, melihat perkembangan global, dimana setiap tahun ada
pertambahan sekitar 60.000.000 halaman media cetak di perpustakaan, tentu saja
yang kita nikmati baru bebrapa di antaranya, di banyak perpustakaan universitas,
dipusat dokumentasi ilmiah (PDII-LIPI), di lembaga (balai/pusat penelitian
universitas, di litbang departemen ada sejenisnya juga dihimpun data hasil
penelitian, abstraksi tesis dan disertai, proseding seminar dan lain-lain, yang
menurut mempercepat proses pendistribusian informasi ilmiah yang mahal
harganya, namun bermanfaat besar bagi kehidupan umat manusia.
Jaringan
informasi perlu dikembangkan dengan jalan mengerakkan bebrapa kunci utama.
Marwah Daud Ibrahim (1992), project program, mengemukakan bahwa ada bebrapa
kunci utama dalam mengembangkan suatu jaringan informasi, yaitu:
Pertama,
komitmen yang konsisten untuk melengkapi jumlah dan jenis buku serta alat
belajar. Mungkin dengan bahasa lain dapat dikatakan bahwa, dibutuhkan suatu
kemauan politik untuk memberikan perhatian pada sumber dan media informasi
pendidikan. Selama ini perhatian biasanya lebih diutamakan pada gedung, belum
pada isi perpustakaan yang merupakan roh, serta sumber hidup dan persyaratan
peningkatan kualitas tenaga didik dan peserta didik, kita berharap bahwa di
masa depan, perhatian lebih difokuskan pada efektivitas sarana yang sangat
penting ini.
Kedua, sistem pendidikan
yang mendorong orang untuk meningkatkan kegairahan belajar bukan sekedar
kesiapan mengikuti dan lulus ujian. Sampai sekarang masih sering terdengar
keluhan bahwa untuk apa meningkatkan fasilitas perpustakaan atau koleksi buku,
jika jumlah orang yang dating membaca atau meminjam buku masih sangat terbatas.
Karena itu tanpa upaya serius untuk mengembangkan sistem belajar yang mendorong
mahasiswa mencari ilmu sendiri, dan melihat guru sebagai fasilitator belajar,
tampaknya perpustakaan akan sepi pengunjung. Lalu apa gunanya bicara tentang
pengembangan jaringan jika yang ada saja tidak termaksimalkan penggunaannya dilokasi
sistem laksanakan.
Ketiga, diperlukan
pengaturan administrasi dan manajemen yang memungkinkan orang aktif (saling
mengakses) dalam jaringan informasi pendidikan nasional. Perancangan dan
pengembangan sistem manajemen dan administrasi ini terkandung jauh lebih rumit.
Karena itu strategi, orientasi dan aturan mainnya hanyalah untuk tujuan-tujuan
pendidikan sendiri.
Keempat,
diperlukan tenaga profesional yang kompeten, berdedikasi tinggi serta memiliki
visi yang terbuka. Tanpa tenaga dengan kualifikasi tersebut susah dikembangkan
jaringan informasi yang berkualitas. Kompetensi tenaga ini antara lain dalam
bidang perpustakaan, jaringan kerja, computer, telekomunikasi, terutama
menyangkut aspek softwarenya.
Kelima,
diperlukan dana yang cukup. Dana pengembangan ini termasuk di antaranya untuk
pembelian buku dari dalam dan luar negeri, untuk langganan jurnal dan CD-ROM,
untuk membangun database, dan pendidikan staf, untuk mebayar tenaga kerja, dan
seterusnya. Sayang sekali pengembangan fasilitas baca sampai sekarang masih
menduduki jajaran bawah dalam prioritas pengembangan sarana belajar.
Keenam, diperlukan
perencanaan teknis yang runtut. Tentu saja yang dimaksud disini tidak selalu
harus dengan teknologi yang canggih, denagn jaringan computer atau telekomunikasi
yang mahal. Tapi dimulai dengan membudayakan dan melembagakan kebiasaan
pertukaran sumber daya yang ada pada pusat pendidikan satu dengan yang lain
juga bisa memicu lahirnya rasa tanggung jawab bersma dalam menigkatkan kualitas
belajar mengajar. Di level yang sudah maju nantinya dapat dibantu dengan pengembangan jaringan
teknologi computer modern, online, atau offline connection, surat elektronik
dan sebagainya.
Kemajuan,
kebahagian, dan kesejahteraan serta memperoleh pendidikan, dengan sekuat apapun
usaha pemerintah dan berbagai kalangan yang kompeten, walau bagaimanapun akan
tetap berjalan imbang. Penyebaran media informasi hanyalah alat semata, yang
paling menetukan adalah sumber daya manusianya.
Perlu disadari oleh semua pihak (guru, masyarakat umum, kaum profesional
dan terutama masyarakat desa sendiri) bahwa tujuan akhir hidup masyarakat desa
terutama harus menerima secara sadar, baik kata maupun perbuatan, bahwa hidup
didesa tidak identik dengan penderitaan menahun dan hidup dikota identic dengan
kebahagian sepanjang hayat.
Tampilnya
siaran media massa yang berorientasi ke desa, perpustakaan desa, film
penerangan dipedesaan, tenaga PPL, AMD, JMD, HMD dan arus balik profesional
lain akan sangat membantu. Pada level tertentu seperti untuk keperluan bisnis
berskala besar, menempuh pendidikan lebih tinggi atau karena berprestasi luar
biasa dari sebagian warga, tidak menutup kemungkinan berkompetensi dikota. Yang
perlu dihindari adalah : hidup dikota dengan kondisi serba kurang, frustasi dan
merepotkan orang lain. Kalau demikian adanya keberatan warga masyarakat yang
demikian adanya keberatan warga masyarakat yang demikian bukan membantu usaha
kesejahteraan sosial, melainkan menambah rumit masalah sosial.
3.
Memasukkan
subsistem alam dikelas-kelas sekolah.
Manusia
dilahirkan dimuka bumi ini telah ditakdirkan memiliki kemampuan verbal. Tapi
manusia tidak ditakdirkan menjadi verbalis. Kemampuan verbal itu lebih banyak
dijadikan modal untuk menjadi seorang verbalis, hanya menggunakan kata-kata
melulu. Kenyataan yang amat kontras dan paling banyak terjadi justru terjadi
dikelas-kelas sekolah.
Sampel pakis, buah manga, jagung dan sejenisnya begitu
banyak “di hutan-hutan” dipinggir perkampungan atau dihalaman ruang disekitar
kita. Namun, guru hampir tidak pernah menghadirkan subsistem alam itu di
kelas-kelas sekolah untuk keperluan pengajaran ilmu tumbuhan yang berkenaan
dengan materi perkembangbiakan melalui spora, tumbuh-tumbuhan dikotil dan
monokotil dan lain-lain. Keluhan yang muncul selama ini, bahwa efektivitas
pengajaran rendah dikarenakan media pengajaran tidak tersedia, kalaupun banyak
benarnya, namun banyak tidak dapat dipertanggungjawabkan sepenuhnya.
Tidaklah justru potensi subsistensi alam belum
dimanfaatkan sungguh-sungguh oleh kita sebagai pendidik. Falsafah yang
berkembang disumatera barat, dalam terkembang menjadi guru, punya makna yang
mendalam, bahwa isi pendidikan sebenarnya tidak lain dari apa yang ada di
sekitar kita.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Teknologi pendidikan
merupakan suatu disiplin terapan, artinya ia berkembang karena adanya kebutuhan
di lapangan, yaitu kebutuhan untuk belajar, belajar lebih efektif dan efisien,
lebih luas dan lebih cepat, dan seterusnya.
Bidang alat-alat audio
–visual itu sendiri merupakan perpaduan antara dua hal berbeda, tetapi saling
berkaitan, yang disebut dengan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak
(software). Perangkt keras berkenaan dengan peralatan/perlengkapan, seperti:
OHP, proyektor slide, tape recorder, televisi, video cassette, mikro komputer.
Perangkat lunak berkaitan dengan berbagai macam yang digunakan dalam
hubungannya dengan peralatan tadi, seperti transparansi, audiotape, rekaman
video, dan program komputer.
Teknologi dalam
pendidikan merupakan suatu objek yang sangat penting dari teknologi pendidikan
berkenaan terutama dengan penggunaan unit-unit audio-visual aids dengan
mempergunakan perangkat keras sesuai dengan perangkat lunak, maka efisiensi dan
efektivitas, serta kualitas pembelajaran dapat diperbaiki atau ditingkatkan.
Hal ini yang mendasari perkembangan teknologi dalam pendidikan dewasa ini.
Beberapa cara menggunakan dan memanfaatkan alat-alat
teknologi antara lain sebagai berikut:
a.
Papan
tulis
b.
Bulletin
board dan display
c.
Gambar
dan ilustrasi fotografi
d.
Slide
dan filmstrip
e.
Film
f.
Rekaman
pendidika, dan lain sebagainya
Kemajuan yang dicapai manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi membuat ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri berkembang semakin
pesat. Pola hidup manusia dengan kemajuan ilmu dan teknologi mempunyai hubungan
erat, pendidikan mungkin wadah paling menonjol dalam rangka kemajuan itu, dalam
rangka kegiatan pendidikan, ada beberapa media yang dapat digunakan, mulai dari
paling sederhana sampai kepada yang canggih.
DAFTAR
PUSTAKA
Darmawan,
deni. Teknologi Pendidikan, Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2013
S,
Nasution. Teknologi Pendidikan,
Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005
Danim,
Sudarwan. Media Komunikasi Pendidikan, Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2010
[1] Deni Darmawan, Teknologi
Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), 106.
[2] Ibid., hal. 112
[3] Sudarwan Danim, Media Komunikasi
Pendidikan (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010), 17
[4] Ibid., hlm. 20
[5]
Nasution, S, Teknologi Pendidikan (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005), 101
Tidak ada komentar:
Posting Komentar